AkuInginPulang.mp3
Kamis, 17 Oktober 2013
Sejarah Aceh-indonesia
Dunia terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Ada dua hal yang mungkin muncul karenanya. Pertama adalah saling membunuh karena berpikir budaya mereka sendiri adalah yang terbaik. Kedua adalah saling merayakannya sebagai suatu rahmat dari realitas hidup yang multicultural (beragam suku dan budaya). Semua masyarakat yang multi cultural dihadapkan pada pilihan ini. Saling bermusuhan karena perbedaannya atau justru saling belajar satu sama lain?
Sejarah menunjukkan banyak perang dan genocide terjadi, salah satunya, karena sebagian orang berpikir bahwa budaya dan suku bangsa mereka sendiri adalah superior (terhebat).
Tahun 1940-an Hitler di Jerman adalah salah satunya. Hitler percaya ras dan budaya Jerman adalah yang terhebat di dunia. Karena kepercayaan ini, ia meyakini semua ras dan budaya lain harus dimusnahkan. Hitler kemudian membentuk gas-gas chamber bagi menghabisi semua orang bukan asli dan kelompok minoritas di Jerman. Hasilnya lebih dari 2 juta manusia dibunuh secara massal dengan gas beracun and perang dunia ke II meledak.
Tahun 1994 hal yang sama juga berlansung di Rwanda di Afrika. Suku Hutu membunuhi suku Tutsi karena meyakini suku mereka adalah yang terbaik. Lebih dari 800 ribu orang dibunuh, puluhan ribu perempuan diperkosa untuk ditularkan penyakit AID, ratusan ribu dipotongi tubuhnya agar menjadi cacat seumur hidup. Genocide di Rwanda ini menjadi salah satu sejarah tergelap bagi Afrika dan dunia.
Tapi sebaliknya sejarah juga pernah memberikan gambaran lain dimana hidup yang toleran dan saling menghargai antarsesama menjadi sumber kemajuan. Di Spanyol sebelum tragedi naiknya Ratu Isabella tahun 1480, Andalusia adalah simbol dari kerukunan hidup antara Yahudi, Nasrani dan Islam. Saat itu, semua orang berbeda suku dan agama bisa hidup bebas disana. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan menjadi maju karena semua saling belajar dari budaya yang lain.
Berbagai penemuan baru didapatkan dari kerja bersama ahli fisika Islam, ahli matematika Yahudi dan ahli filsafat Kristen. Banyak juga hasil seni hebat diproduksi dari perpaduan kebudayaan ketiga agama. Hal yang sama juga pernah berlansung di India, di zaman Moghul Empire. Akibat kerukunan hidup, hasilnya adalah produksi seni dan budaya, serta Taj Mahal yang menjadi salah satu istana terindah di dunia. India pada saat itu juga menjadi pusat perkembangan kebudayaan yang sangat dinamis.
Pelajarannya adalah ketika semua merayakan perbedaan dari suku, bahasa dan agama sebagai sesuatu yang baik bagi kehidupan, itu akan jadi sumber kemajuan. Tapi sebaliknya ketika permusuhan yang dikembangkan hasilnya adalah kematian dan peperangan.
Kemajemukan adalah salah satu alasan dari sejarah kemajuan beberapa negara besar sekarang termasuk Amerika dan Eropah. Amerika adalah contoh paling menarik disini.
Pada awal kelahirannya, Amerika dibangun dengan keringat dari para pendatang dan para imigran yang terusir dari berbagai belahan dunia. Berbagai jenis pendatang berlomba-lomba menunjukkan yang terbaik di negeri barunya. Persaingan sehat para pedatang ini menjadikan mereka adikuasa secara ekonomi, sebelum akhirnya menjadi adikuasa secara politik. Pengalaman dunia dan pelajaran sejarah ini adalah sangat berguna bagi Aceh. Aceh berada persimpangan kebudayaan dan beragam manusia sejak lama.
Posisi strategis Aceh secara territorial membuat banyak orang selalu datang dan berinteraksi dengan rakyatnya. Berada di titik strategis persimpangan dunia, kota pelabuhan yang berpotensi, Aceh di masa dulu adalah selalu akan menjadi tempat singgah dari banyak orang. Anthony Reid, sejarawan Aceh, dalam beberapa bukunya menggambarkan saudagar Cina, pengusaha Eropa, orang Arab and India adalah pengunjung rutin dari kota pelabuhan Aceh. Aceh masa dulu adalah mungkin seperti Singapore masa sekarang ini. Karena kenyataan ini, sebagian bahkan berpendapat asal usul nama Aceh adalah dari singkatan Arab, Cina, Eropah, and Hindia.
Karenanya proses integrasi berbagai budaya dan berbagai orang adalah keniscayaan dalam sejarah Aceh. Sejarah menunjukkan orang Aceh adalah masyarakat yang multi cultural dan kosmopolit. Berbeda-beda, ada turunan Cina, Arab, India dan Eropa tapi mereka semua bisa hidup satu sama lain, bertentangga, saling menghormati.
Aceh saat itu adalah terbuka bagi siapapun, tanpa memandang jenis agama, suku dan warna kulit. Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas di Aceh tidak pernah membuat takut pihak luar dan kelompok minoritas di Aceh. Islam di Aceh tidak pernah menjadi hambatan bagi pergaulan dengan berbagai bangsa dan suku. Ia tidak juga pernah memaksakan. Hasilnya adalah Aceh yang tidak keras dan fundamentalis (ekstrim).
Ketika utusan raja Inggris, James Walace, datang untuk persahabatan, ia disambut dengan penuh hormat, disediakan tempat mulia, di bikinkan pesta. Utusan Inggris begitu terkesan dengan keramahan orang Aceh. Tapi Aceh juga bisa menjadi keras terhadap pendatang yang masuk untuk memusuhi. Keras terhadap asing bukan karena berbeda agama, bangsa dan suku dengan mereka, tapi karena mereka datang untuk mencanangkan perang dan permusuhan. Makanya ketika Kohler datang untuk menjajah Aceh, ia dilawan dengan gagah berani dan ditembaki. Seandainya Kohler datang untuk perkawanan, mungkin kenduri dan pesta adalah sambutan kepadanya.
Sekarang sejarah sedang berulang. Paskatsunami dan paska-MoU Helsinki, Aceh kembali lagi didatangi berbagai jenis orang, dari berbagai suku, agama, warna kulit. Pertanyaan yang muncul kemudian apakah rakyat Aceh akan melihat ini sebagai ancaman atau peluang untuk merayakannya bagi belajar satu sama lainnya?
Ada sebagian orang yang melihatnya sebagai ancaman. Mereka terus mepropagandakan bahwa orang asing yang datang adalah musuh yang harus diusir pulang. Propaganda ini adalah sesuatu yang sangat tidak mendasar.
Musibah tsunami dan konflik adalah penyebab kedatangannya. Mereka datang karena percaya dengan suatu nilai universal tentang humanitarianism, bahwa semua manusia sama dan perlu dibantu. Bahwa mereka punya kebudayaan dan suku yang berbeda adalah benar, tapi semua adalah manusia, dan manusia yang satu wajib membantu manusia lainnya. Humanitarianism menempatkan semua manusia sebagai setara dan sama, tanpa perbedaan warna kulit, suku dan agama.
Disisi lain, kedatangan mereka sebenarnya juga akan membuka peluang bagi rakyat Aceh untuk belajar yang baik dari budaya orang lain. Nenek moyang terdahulu rakyat Aceh justru melihat keragaman berbagai suku dan agama yang mengunjungi Aceh sebagai potensi untuk perpaduan. Yang bagus dari berbagai budaya diambil menjadi sesuatu yang baru dan dipakai untuk cara hidup yang lebih baik.
Pernyataan yang bilang bahwa budaya Aceh yang terbaik di dunia adalah bohong. Begitu juga pernyataan sebaliknya yang bilang bahwa budaya asing adalah terbaik didunia juga bohong. Setiap budaya punya sisi baik dan buruknya. Memadukan yang baik, menjadikannya sebagai sintesis baru adalah cara yang bijak, daripada menolaknya semena-mena. Terhadap budaya orang dan diri sendiri, philosophy yang baik adalah tidak merasa inferior (rendah diri) dengan budaya sendiri, tapi juga tidak merasa superior (paling hebat) dengan budaya sendiri. Beranilah belajar dari budaya orang lain dan budaya sendiri.
Philosophy ini penting bagi masa depan Aceh di dunia yang global sekarang ini. Masa depan dunia adalah masyarakat yang multicultural. Dunia kedepan dihadapkan pada kenyataan bahwa kita harus hidup berdampingan satu sama lain. Koneksi antara satu belahan dunia dengan belahan dunia yang lain semakin dekat. Kehidupan multicultural Aceh adalah modal yang harus dijaga. Kita bisa belajar banyak hal positif dari keberagaman manusia, agama, dan suku bangsa.
Candi Borobudur
Untuk sekadar mengingatkan kembali bagaimana pentingnya kita menghargai sejarah dan benda-benda peninggalan berupa artefak-artefak, candi, prasasti, atau yang lainnya, marilah kita melihat bagaimana Candi Borobudur direkonstruksi sehingga menjadi bangunan yang megah dan termasuk tujuh keajaiban dunia. Untuk mengawalinya kita perlu melihat bagaimana nama dan Candi Borobudur diketahui. Hutan belakar Sekira tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar. Kemudian pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut. Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada nama tempat. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit. Sedangkan Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat. Dalam pelajaran sejarah, disebutkan bahwa candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Sedangkan yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani. Sebelum dipugar, Candi Borobudur berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan sekarang ini. Ketika kita mengunjungi Borobudur dan menikmati keindahan alam sekitarnya dari atas puncak candi, kadang kita tidak pernah berpikir tentang siapa yang berjasa membangun kembali Candi Borobudur menjadi bangunan yang megah dan menjadi kekayaan bangsa Indonesia ini. Pemugaran selanjutnya, setelah oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana. Oleh sebab itu, para pemugar harus memiliki sekelumit sejarah agama ini di Indonesia. Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur. Materi candi Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir. Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Dan itulah salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia. Melihat kemegahan bangunan Candi Borobudur saat ini dan candi-candi lainnya di Indonesia telah memberikan pengetahuan yang besar tentang peradaban bangsa Indonesia. Berbagai ilmu pengetahuan terlibat dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp. Kita patut menghargai usaha-usahanya mengingat berbagai kendala dan kesulitan yang dihadapi dalam membangun kembali candi ini. Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi. Restorasi di tahun 1974-1983 Harta karun Pemugaran selanjutnya dilakukan pada tahun 1973-1983, selang 70 tahun dari pemugaran yang dilakukan van Erp. Pemugaran ini dimaksudkan tiada lain sebagai upaya melestarikan budaya yang tak ternilai harganya. Inilah "harta karun" yang sesungguhnya tak bisa dihargai dengan uang apalagi dijual untuk membayar utang. Kesadaran masyarakat untuk ikut mengamankan bangunan candi sangat diharapkan termasuk juga dari para wisatawan. Penggalian, penelitian, dan rencana pemugaran terhadap candi-candi atau benda-benda bersejarah lainnya yang baru-baru ini ditemukan tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pemugaran bangunan budaya dan kepurbakalaan tidak semudah pembangunan gedung modern. Setiap bentuk bangunan budaya memiliki makna yang khusus dan hal ini tidak dapat diabaikan di dalam pemugaran bangunan kuno tersebut. Oleh sebab itu butuh dukungan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Upaya membangun kembali sebuah simbol-simbol peradaban yang pernah hilang berarti semakin membuka mata-hati kita tentang sejarah peradaban manusia Indonesia yang kaya dengan ilmu pengetahuan dan budaya. Dengan demikian, kita akan menjadi manusia berbudaya yang mampu menghargai budayanya sendiri sebagai bentuk jati diri dan identitas bangsa yang mandiri. Akhirnya, kita harus membangkitkan kembali gairah menghargai benda-benda cagar budaya yang bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat dan bangsa, melainkan juga menjadi kekayaan ilmu pengetahuan yang akan terus mengungkap fakta-fakta sejarah itu. Menikmati keindahan dan menjaga kelestariannya merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sangat berarti. Tentunya peran lembaga yang berkaitan dengan perlindungan benda-benda cagar budaya perlu ditingkatkan dengan memberikan pemahaman, pengertian dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga dan melestarikan benda-benda tersebut. Perlindungan hukum pun harus ditegakkan secara konsisten sehingga tidak terjadi lagi kepincangan-kepincangan hukum yang menyisakan rasa ketidakadilan bagi masyarakat, seperti halnya kasus peledakan Candi Borobudur pada 1983.*** Tetap menjadi suatu misteri,sekedar tambahan candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dengan tinggi 34,5 meter dan luas bangunan 123 x 123 meter. Di dirikan di atas sebuah bukit yang terletak kira-kira 40 km di barat daya Yogyakarta, 7 km di selatan Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 dan 842 Masehi. Candi Buddha ini kemungkinan besar ditinggalkan sekitar satu abad setalah dibangun karena pusat kerajaan pada waktu itu berpindah ke Jawa Timur. Sir Thomas Stanford Raffles menemukan Borobudur pada tahun 1814 dalam kondisi rusak dan memerintahkan supaya situs tersebut dibersihkan dan dipelajari secara menyeluruh. Proyek restorasi Borobudur secara besar-besaran kemudian dimulai dari tahun 1905 sampai tahun 1910 dipimpin oleh Dr. Tb. van Erp. Dengan bantuan dari UNESCO, restorasi kedua untuk menyelamatkan Borobudur dilaksanakan dari bulan Agustus 1913 sampai tahun 1983. Namun, sampai sekarang Candi Borobudur masih menyimpan sejumlah misteri. Sejumlah misteri itu misalnya, siapa yang merancang Candi Borobudur, berapa jumlah orang dipekerjakan untuk membangun candi tersebut, dari mana saja batu untuk membangun candi ? Filosofi apa yang digunakan untuk membuat candi tersebut ? Tetapi yang pasti candi ini merupakan aset penting bagi Indonesia di mata dunia internasional. Kita harus bangga dan selalu menjaga kelestariannya.
Langganan:
Komentar (Atom)
